TPA KU YANG DULU BUKANLAH TPA KU YANG SEKARANG




Tujuan utama dari Taman Pendidikan Al Quran adalah santri mampu membaca Al Quran dengan baik dan benar sesuai dengan hukum tajwid dan melaksanakan sholat lima waktu secara rutin dan benar, baik gerakan maupun bacaannya.  Apabila santri sudah mampu seperti itu, kegiatan TPA bisa dikatakan berhasil.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan waktu yang tidak sebentar.  Ada yang perlu 1 tahun, ada yang perlu 2 tahun, bahkan ada yang lebih dari 5 tahun belum bisa juga membaca Al Quran. Salah satu faktor penyebab penghambat tujuan tersebut yaitu santri jenuh dalam proses pembelajaran.

Banyak santri yang bosan dan akhirnya tidak mau berangkat TPA lagi . Mereka enggan berangkat karena merasa jenuh dan tidak krasan berada di TPA.

Siapa yang membosankan... ?  

Bisa jadi teman-teman dikelasnya, bisa jadi ustadz/ah nya,  bahkan bisa jadi teknik penyampaian materinya yang membosankan. TPA itu kan singkatan dari Taman Pedidikan Al Quran , ingat ya ada kata TAMAN .  

Menurut KBBI, arti Taman adalah  tempat yang menyenangkan dan sebagainya. Tidak membosankan, dan jika meninggalkan ingin kembali ke tempat itu.

Tugas ustadz/ah pengajarlah yang harus mengkondisikan suasana Belajar menyenagkan, agar santri betah berlama-lama di TPA.

Agar tercipta suasana yang benar-benar seperti taman yang menyenangkan, perlu disusun kegiatan yang menarik untuk santri dan ustadz/ahnya, harus untuk keduannya, untuk santri dan ustadz. Karena kalo hanya menarik bagi santri dan tidak menarik bagi ustadz/ah, bisa jadi gantian yang bosan malah  ustadz/ahnya.

Karena itu tugas Direktur & Pengurus TPA itu salah satu yang penting adalah mengkonsep  kegiatan yang menarik, terstruktur, sistematis dan masif.

Sebelum ada kebijakkan Full Day School ,  4 dari 10 TPA yang ada vakum karena ketiadaan santri. Bukan karena anak belum pulang sekolah, atau di sekitar TPA tidak ada anak-anak, tetapi karena anak merasa  bosan dan akhirnya mencari kegiatan yang lebih menarik bagi mereka.  

Pernah suatu hari, seorang kawan bercerita ketika berangkat ngajar TPA. Blio merihat beberapa anak-anak asyik bermain. Pada saat mereka bermain, ada orangtuanya juga, dan mereka dengan santainya hanya menyapa Blio  sambil tersenyum malu-malu wagu gitu.  Padahal  mereka sebenarnya tahu kalo hari itu ada TPA, dan mereka memilih untuk bermain, terlebih orangtuanya juga malah membersamai mereka bermain.

Ini yang salah orangtuanya, atau salah anaknya..?

Ternyata yang salah itu kita sebagai pengurus TPA. TPA kita kurang menarik buat mereka.
Ibarat acara Televisi, mereka lebih senang nonton acara Teve A daripada acara Teve B.


Trus bagaimana menciptakan TPA yang menarik itu..?  Kok bisa lebih menarik?

Bersambung.....

Bagikan: