BADKO TKA TPA JAMAN NOW

 Nasi Tumpeng lengkap dengan Ingkung njeditnya ( foto oleh bu niha )

 

Sabtu Legi 28 Oktober 2017, bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda, merupakan hari yang istimewa bagi BADKO TKA TPA, sama seperti Yogyakarta yang istimewa. BADKO TKA TPA DIY punya gawe, yaitu Milad, atau bahasa kekiniannya sering disebut  Anniversary,  ( padahal itu bahasa Inggris lho, bukan bahasa kekinian  ).


Sudah 27 tahun BADKO TKA TPA membina TKA TPA di Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang jumlahnya lebih dari 3500 unit TKA TPA. Apabila satu unit TKA TPA rata-rata mempunyai 15 santri, maka  ada sekitar 70 ribu santri.  Jumlah yang sangat banyak.  Bayangkan jika semua  santri punya akun social media dan masing-masing saling follow. Jumlah follower Anda akan meningkat drastis.


Biasanya jika seseorang Milad ( ulang tahun ), ada yang memberikan hadiah. Dan hadiah yang diberikan oleh Allah SWT untuk BADKO TKA TPA adalah menjadi juara 2 pada ajang FASI X Nasional yang dilaksanakan di Banjarmasin bulan September lalu. Sungguh hadiah yang sangat istimewa. Alhamdulillah

 Tamu undangan menikmati hidangan makanan khas daerah

 
Rangkaian acara Milad BADKO TKA TPA  yang dilaksanakan di Gedung Dakwah AMM Kotagede ini dimulai dari badha magrib, dengan pembacaan ayat suci ayat Al -Qur’an yang dipandu oleh ustadz Muhsonef, Nah setelah sholat isya acara dimulai dengan live music dari grup music Kalimosodo dari Gunung Kidul. Tamu undangan yang terdiri dari aktifis TKA TPA se DIY, mulai dari BADKO TKA DIY, BADKO Daerah, BADKO  Rayon, LDPQ, AMM dan masih banyak lagi duduk asyik bersama-sama menikmati alunan music yang dibawakan ustadz Jayadi and Friend’s sambil menikmati suguhan  makanan khas daerah yang dibawa oleh masing-masing BADKO Daerah.

 Ustadz Muhsonef memandu Tadarus Quran Bada magrib

 
Masing-masing BADKO Daerah membawa makanan khas, diantaranya dari BADKO Sleman membawa salak, jadah tempe, welut goreng, dari BADKO Bantul membawa peyek, geplak gulo jowo, dari BADKO Kota membawa bakpia, kipow, satu, dari BADKO Kulon Progo membawa wingko, geblek dan dari BADKO  Gunung Kidul membawa kewat, tejo ( monTe JOwo ) dan emplek.


 Makanan Khas daerah yang beraneka ragam

Pada acara Milad yang ke 27 kali ini dikemas seperti tahun sebelumnya, yaitu silaturrahmi aktivis TPA se Daerah istimewa Yogyakarta, mulai dari  yang sepuh sampai yang masih diasuh ( bayi ), dari yang sudah punya cucu sampai yang jodohnya belum ketemu. Semua bertemu jadi satu. Benar-benar reuni aktivis lintas generasi.


Pak  Sugeng Murjoko, selaku pranoto adicoro memandu  acara milad kali ini,  dengan mengucap Bismillahhirrahmanirrahim  acarapun dimulai. Setelah dibuka, Ustadz Najib, memimpin para hadirin melantungkan ayat suci Al Qur’an suarat Al Baqarah ayat 286 dengan irama Hijjaz. Lagu kebangsaan Indonesia Raya pun dinyanyikan untuk menambah rasa nasionalisme. dengan dirigen Bu Uji Ikhtiarini dari Kulion Progo, dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars TKA TPA.

 

 Hadirim berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya


Acarapun dilanjutkan dengan sambutan  oleh ketua Umum BADKO TKA TPA DIY. Dalam sambutannya, ustadz Arifin Hafidz menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua hadirin atas kesediannya menghadiri acara Milad BADKO yang ke 27 ini. Blio juga menyampaikan, “ Tidak terasa BADKO sudah 27 tahun, usia kalo untuk manusia adalah  usia pas masa semangat-semangatnya, dan seharusnya BADKO  TK TPA juga harus begitu, harus selalu semangat “.


Ustadz Arifin Hafidz juga menceritakan pengalaman Blio selama aktif di BADKO. Pada saat itu ketika acara Wisuda Perdana santri se-DIY yang dilaksanakan di Pagelaran Kraton Yogyakarta pada awal 1990an. Blio selalu diamanahi  menjadi seksi keamanan bersama ustadz  Rahmat Taufik.

 

Blio menambahkan, ada pengalaman menarik  pada saat pelaksanaan Wisuda santri Se-DIY waktu itu. Diantaranya,  Gubenur DIY yang awalnya tidak diperkenankan masuk lokasi Wisuda oleh seksi keamanan,  karena Blio salah pintu masuk.  Mungkin pada saat petugas keamanan dari KOKAM waktu itu  melarang pak Gubenur masuk, Blio membatin, “ iki piye tho sing duwe nggon malah ora oleh mlebu “ .


Pengalaman unik lainnya yaitu salah satu santri peserta wisuda yang harus pulang  hanya mengenakan pakaian dalam ( singlet ) saja , karena baju Toga yang dipakai  peserta harus dikembalikan pada saat itu juga. Lha kok ya ndilalah santrinya cuma pakai baju singlet saja dan tidak bawa baju ganti lainnya. Mau tidak mau harus dikembalikan hari itu juga, maklum karena baju Toga harus segera dikembalikan ke penyewaan di Bandung. Jan pengalaman yang bisa untuk bekal cerita anak cucu.


Setelah sambutan dari Pak Hafidz, acarapun dilanjutkan dengan pemotongan Tumpeng.

 Do'a dan Potong tumpeng Milad BADKO ke 27


Dengan diawali dengan do’a sebagai rasa syukur yang dipimpin oleh ustadz Drs. H. Suhudi Aziz, M.H, yang juga Ketua pengurus LPTQ Nasional AMM DIY, tumpeng pun dipotong oleh ustadz Arifn Hafidz selaku ketua umum BADKO DIY. Potongan tumpeng pertama diberikan kepada ustadz Mangun Budiyanto, selaku ketua Dewan Pakar BADKO DIY, dan potongan berikutnya diberikan kepada ustadz Drs. H. Suhudi Aziz, M.H.   Acara milad yang sederhana tapi sangat penuh makna.


Acara puncak Milad  yaitu sarasehan Lintas Generasi pun dimulai setelah semua tamu makan malam bersama dengan menu sego gurih dan tumpeng yang dinikmati bersama sambil mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh ustadz Anas Yusuf dan ustadz Muhsonef.
 


Untuk menambah semangat, Ustadz Muclis Umadi dan Ustadz Muhamad Dahlan yang memandu Sarasehan pun membuat slogan.


BADKO DIY…. ? “ Tanya mereka
Gayeng tenan…. !! “ jawab para tamu kompak
Keluarga Besar BADKO DIY…? “ lanjut mereka
Seduluran Saklawase “ jawab semua sambil tepuk tangan.

 Ustadz Muclis dan ustad Dahlan meramaikan lantai dansa


Dan sebagai narasumber Sarasehan Lintas generasi Milad BADKO kali ini adalah


Yang pertama, Ustadz Mangun Budiyanto, mewakili aktivis TPA yang paling senior. Blio sudah aktif  di dunia TKA TPA sudah sangat lama dan sampai saat ini masih aktif. Bapak dari empat anak dan kakek dari 4 orang cucu ini orangnya humoris, setiap kata yang disampaikan selalu mengundang tawa, tapi tetap penuh makna.


Narasumber yang kedua adalah ustadz Arifin Hafidz. lahir dan  besar di Kotagede, sampai setelah menikah dan punya putri masih tetap setia tinggal di Kotagede. Blio orangnya tegas,  setia kawan dan meyukai dunia anak-anak, sampai ada satu anak yang sangat ngefans dengan Blio. Saking ngefansnya, setelah berfoto dengan pak Hafidz, kepercayaan diri anak ini bertambah drastis.


Ustadz Arif Tyas, sebagai narasumber ketiga yang berasal dari Wonosari Gunung Kidul . Salah satu ahli Juru kisah Islami ini mengaku sebagai anggota BADKO DIY yang paling ngeyel, karena selalu datang terlambat.  Ya maklum rumah Blio yang berada di jogja lantai dua.


Sebagai perwakilan aktifis TKA TPA Generasi Zaman Now sekaligus narasumber yang keempat adalah ustadz Fajar Wijanarko, masih muda dan jomblo single. Blio tinggal di daerah perbatasan Jogja dan Sleman, jadi kalo ke Sleman malah lebih dekat daripada ke Kota.

 

 Narasumber Sarasehan Lintas Genarasi


Selaku moderator sarasehan, Ustadz Muclis Umadi dan Ustadz Muhamad Dahlan memberikan pertanyaan kepada setiap narasumber terkait pengalaman dan harapannya tentang TKA TPA di DIY.  Semua berharap TKA TPA di DIY bisa berkembang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dukungan dari pemerintah daerah semakin besar. Pengurus BADKO TKA TPA saat ini dan pengurus yang akan datanglah yang bertugas meneruskan perjuangan mencetak Generasi Qur’ani, hingga nanti menghadap Illahi.


Diakhir Sarasehan, ustadz Hafidz bercerita pengalaman Blio waktu kecil. “ Dulu di kotagede ada namanya  bancakan mundur. Syukuran dengan membagikan kepada anak-anak nasi dan sayur yang biasa disebut gudangan. Setiap anak yang mendapat  nasi bancakan tidak boleh pulang sebelum makanan yang dibawanya habis “. Oleh karena itu, para tamu yang hadir dalam Milad BADKO TK TPA malam ini juga tidak boleh pulang sebelum semua makanan yang disediakan habis. Pantang pulang sebelum makanan habis.  Agar tidak mubazir, akahirnya banyak yang membawa pulang makanan, daripada harus menghabiskan malam itu juga, bisa-bisa nanti berat badanya nyaingin pak Hafidz. He he

 

 Pesan Pak Hafidz, pantang Pulang sebelum makanan habis, Nak nan....


Selamat Milad Ke 27 BADKO TK TPA semoga bisa terus istiqomah dalam membina Generasi Qur’ani.

 

Bagikan: